Mencari Komodo di Selatan Jakarta

Sabtu 1 April 2017
Taman Margasatwa Ragunan

Sabtu ini, saya bersama sahabat saya-Nurul-berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR) dalam agenda kami mengeksplor objek-objek wisata Jakarta. Sebagai warga yang terlahir dan tumbuh besar di Jakarta, kami memang sudah mengunjungi sebagian besar objek wisata di kota ini. Namun demikian, seiring pertambahan usianya kota ini terus berbenah, sejumlah perbaikan pada fasilitas umum juga terus dilakukan. Hal inilah yang mendorong kami merencanakan agenda tersebut, kami ingin mengenali dan merasakan perubahan kota ini dan merekamnya dalam tulisan.

Taman Margasatwa Ragunan (TMR) atau yang biasa disebut Kebun binatang Ragunan dipilih sebagai destinasi pertama dalam agenda kami. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, hanya saja karena begitu tipisnya memori akan tempat ini, kami merasa ingin segera mengunjunginya. Mungkin ini merupakan objek wisata yang pertama kali dikenalkan sewaktu kami kecil.

TMR merupakan taman seluas 147 ha yang dihuni oleh lebih dari 2000 ekor satwa yang terdiri dari 220 species. Terdapat lebih dari 20.000 pohon yang terdiri dari 171 spesies tumbuh di atas tanah latosol taman ini.

Sejarah singkat TMR

TMR awalnya berada di Jl. Cikini Raya No. 73 (kini Taman Ismail Marzuki) yang didirikan pada 19 September 1864 di masa pendudukan Belanda. Taman ini berdiri di atas lahan seluas 10 ha yang dihibahkan oleh Raden Saleh, seorang pelukis ternama di Indonesia. Saat itu taman ini bernama “Planten en Dierentuin” dan dikelola oleh perhimpunan penyayang flora dan fauna Batavia (Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia).

Pintu masuk Planten en Dierentuin
Pintu masuk Planten en Dierentuin, oleh Tan Tjie Lan, CC BY-SA 3.0

Setelah Indonesia merdeka, pada 1949, taman ini berubah nama menjadi Kebun Binatang Cikini. Karena pesatnya perkembangan di kawasan ini, kebun binatang akhirnya dipindah ke kawasan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan di atas lahan seluas 30 ha yang dihibahkan Pemerintah DKI Jakarta pada saat itu. Kemudian, barulah pada 22 Juni 1964 kebun binatang ini diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan.

Transport menuju TMR

TMR  dapat dicapai dengan Transjakarta Busway yang beroperasi pada koridor 6 Jurusan Dukuh atas-Ragunan, koridor 6A Monas-Ragunan dan koridor 6B Pulogadung-Ragunan. Transjakarta busway beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00-22.00, namun khusus untuk koridor 6A dan 6B tidak beroperasi pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional. Tarif busway untuk sekali perjalanan sebesar Rp2.000 pada jam 05.00-07.00, dan Rp3.500 diluar jam 07.00.

Bus yang melayani koridor 6
Bus yang melayani koridor 6, Perum PPD, Publik domain.

Dari pusat kota, TMR yang berjarak sekitar 20 km dapat ditempuh dalam waktu 1-2 jam tergantung kondisi lalu lintas. Terdapat empat pintu masuk di TMR, yaitu Pintu Utama atau Pintu Utara, Pintu Timur, Pintu Selatan dan Pintu Barat. Shelter busway dan terminal bus Ragunan berada dekat dengan pintu masuk Utama

Taman Margasatwa Ragunan

Sumber: ragunanzoo.jakarta.go.id

Harga tiket TMR

Untuk masuk ke TMR, pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp4.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak. Tarif masuk ini belum termasuk tarif untuk pemakaian fasilitas atau wahana lainnya di TMR. Terdapat banyak fasilitas dan wahana menarik di TMR dan untuk memanfaatkannya dikenakin tarif tersendiri.

Sejak Mei 2016, seluruh transaksi pembayaran mulai dari pembelian tiket masuk TMR, parkir kendaraan bermotor, masuk wahana, outbond dan pembayaran di kantin resmi TMR tidak lagi menggunakan uang tunai. Seluruh transaksi tersebut telah menggunakan kartu transaksi electronik JakCard yang dapat dibeli dan diisi ulang di pintu masuk atau tempat parkir di kawasan TMR.

JakCard merupakan kartu pintar prabayar (pre paid smart card) yang dikeluarkan oleh Bank DKI sebagai alat pembayaran untuk berbagai transaksi di merchant-merchant yang bekerja sama dengan Bank DKI. Kartu perdana JakCard dihargai Rp30.000 dengan saldo awal sebesar Rp20.000. Saldo tersebut dapat di Top Up atau isi ulang di Bank DKI tertentu, serta merchant-merchant berlogo “JakCard Top Up”.

Di Jakarta, kartu ini juga dapat digunakan untuk naik bus Transjakarta, commuterline dan rencananya untuk tiket masuk ke seluruh objek wisata dan museum-museum di Jakarta.

Kartu JakCard dapat digunakan untuk beberapa kali Tap In di pintu masuk TMR bergantung pada jumlah saldo pada kartu tersebut. Satu kartu perdana JakCard dapat digunakan sebagai tiket masuk TMR untuk 5 orang dewasa.

Kolam Pelican
Kolam Pelikan di Taman Margasatwa Ragunan, dok. penulis.

Setelah Tap In di pintu masuk, kami disambut dengan patung monyet selamat datang. Tidak jauh dari patung monyet tersebut ada sebuah kolam luas-dengan icon patung gajah-yang dihuni oleh kawanan Pelican. Burung air dengan paruh berkantung ini menjadi satwa pertama yang menyapa kami.

Pelican di TMR
Pelican di Taman Margasatwa Ragunan, dok. penulis

Pelikan-pelikan putih itu menghampiri tepian kolam, terlihat anggun, seolah sadar dirinya menjadi objek tangkapan kamera pengunjung. Pengunjung hanya dipisahkan oleh pagar setinggi kurang lebih 50 cm, dan dengan mudah dapat menjulurkan tangannya menyentuh burung-burung pelikan itu. Semoga saja para pengunjung bisa patuh dengan larangan memberi makan ataupun tindakan lain yang dapat mengganggu satwa ini. Pelikan ini tidak ada yang meloncat atau terbang keluar, padahal jika dilepas di lahan yang luas burung ini mampu melayang setinggi lebih dari 3000 m dan terbang melaju hingga 150 km.

Pelican2
Pelican di Taman Margasatwa Ragunan, dok. penulis

Di seberang kolam pelikan terdapat Taman Satwa Anak yang dilengkapi beberapa sarana permainan anak. Taman ini menampilkan satwa-satwa yang akan disukai anak-anak, seperti ikan raksasa Arapaima, burung kakatua, ular Condrophyton yang berwarna-warni dan satwa pengerat raksasa, Kapibara. Untuk masuk ke taman ini pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp2.500 per orang.

Untuk mengelilingi taman seluas 147 ha ini TMR telah menyediakan sejumlah sarana, antara lain kereta keliling, sepeda sewaan, dan kuda bendi (delman). Pengunjung juga bisa merasakan aktifitas seru lainnya seperti menunggangi kuda poni, unta punuk satu, atau gajah dengan harga berkisar Rp5.000-Rp7.500.

Dari kolam Pelikan kami berjalan ke arah selatan, kemudian berbelok ke kiri menuju area komodo, beruang madu dan hewan-hewan karnifora. Sebelum itu kami sempat mampir mengamati burung merak dan beo yang memiliki warna bulu sangat indah. Tidak jauh dari sangkar burung beo terdapat kandang berdinding kaca berisi hewan-hewan nocturnal seperti binturong dan luwak.

Tiba di kandang beruang madu, saya cukup terkejut, karena hewan pemakan daging ini ditempatkan di kandang yang sangat terbuka. Pengunjung hanya dibatasi pagar beton setinggi 2 meter, untungnya beruang madu tidak pandai memanjat. Kandang ini dihuni dua ekor beruang, seekor beruang terlihat sedang tidur ditempatnya, sementara seekor lagi terlihat seperti stress atau kelaparan berjalan mondar-mandir dan sesekali mengendus bongkahan kayu di sekitarnya.

Melihat bulu beruang madu yang hitam mengkilap dan terlihat lembut rasanya ingin memeluk hewan gempal ini, namun membaca tulisan “daging” pada jenis makanannya hiii… saya urungkan niat tersebut. Waktu kecil, ketika saya mengunjungi Taman Safari, seorang pemandu pernah mengatakan bahwa beruang suka merobek perut mangsanya. Entah jenis yang mana. Yaaiyyy.

Selesai mengamati beruang, kami menuruni bukit menuju danau buatan, untuk melihat buaya. Hewan buas itu terlihat sedang membenamkan tubuhnya di air, seperti batang pohon, sementara kawannya yang lain merangkak ke daratan. Diseberang danau buaya terdapat kolam seluas 2000 meter persegi yang dapat dikelilingi dengan perahu angsa.

Bua
Buaya di TMR, dok. penulis

Dari danau buaya kami kembali ke atas bukit menyambangi unta punuk satu yang tak henti mengunyah rumput. Bibir mereka yang elastis terlihat jatuh berayun-ayun tiap kali mereka mengunyah. Sambil mengamati unta-unta itu, kami beristirahat pada bangku kayu di bawah pohon. Tiba-tiba seekor kadal melintas (entah apa sebenarnya hewan itu, yang pasti seekor reptil, saudaranya buaya dan komodo). Kami pun bergegas menuju area binatang buas agar bisa segera melihat Komodo Dragon.

Harimau sumatera terlihat tidak aktif di sarangnya hampir semua harimau sedang berbaring di kandang batunya, mungkin berlindung dari sengatan matahari. Satu-satunya harimau yang aktif berjalan mondar-mandir kemudian menuju pintu besi seolah menanti makanan keluar dari pintu tersebut. Tingkah serupa juga ditunjukkan Harimau putih Benggala yang kami temui.

Harimau Putih Benggala
Harimau Putih Benggala di TMR, dok. penulis.

Memasuki tengah hari kami beristirahat sambil menyantap jajanan mie dan gorengan yang banyak dijajahkan penjual di area piknik pada tepi area pemancingan. Selain jajanan ini, di TMR terdapat kantin resmi dengan pilihan menu yang lebih variatif berada di sekitar area piknik tidak jauh dari Central area TMR.

Setelah perut terisi kami kembali melalui jalan setapak mencari musholla. Pepohonan yang rindang di pinggir area pemancingan memagari jalan setapak yang kami lalui. Tidak ada deru mesin kendaraan atau bunyi ‘telolet’ klaksonnya, kicauan burung dan suara berbagai hewan lainnya menjadi musik alam yang menemani langkah kami.

Di TMR ini kalian akan menjumpai banyak pepohonan langka khas Jakarta, seperti Kecapi dan Buni. Setiap pepohonan dipasangi nametag yang membuatnya mudah dikenali, sehingga menambah nilai edukasi taman margasatwa ini.

Jalan setapak di TMR yang bercabang-cabang justru mengarahkan kami menuju kandang gajah di area Selatan TMR. Kondisi kandang gajah ini terlihat gersang meskipun banyak rumput di lahannya, namun tidak ada pohon rindang yang dapat memayungi dua ekor gajah di dalamnya. Seekor gajah terlihat bersusah payah merentangkan belalainya untuk meraih daun-daun akasia di luar kandang. Kaki-kaki gajah itu berpijak di tepi parit yang memisahkan pagar dengan lahan tempatnya berada. Memperhatikan gajah-gajah itu membuat saya khawatir, takut kalau gajah itu akan terperosok jatuh dan terjebak di parit akibat berusaha menggapai daun santapannya.

Gajah Sumatera1
Gajah Sumatera di TMR, dok. penulis.

Dari kandang gajah tersebut kami menuju Masjid Keramat yang berada tidak jauh dari ujung area pemancingan. Selain masjid ini, fasilitas musholla dapat dijumpai di dekat kantor TMR, loket Pintu Timur TMR, dan Pintu Barat TMR. Masjid Keramat ini berbatasan dengan dinding pusat primata Schmutzer, dari dalam masjid kami bisa mendengar suara riuh para primata.

Di Pusat Primata Schmutzer, kalian dapat belajar mengenali dan mengamati berbagai jenis primata diantaranya Orangutan dan Gorilla daratan. Pusat Primata bertaraf internasional ini memiliki peran dalam konservasi Primata Indonesia. Di fasilitas ini primata ditempatkan pada tempat yang telah dikondisikan menyerupai habitat aslinya. Selain melihat satwa, di sini juga terdapat fasilitas lain seperti dapur makanan satwa, diorama satwa, perpustakaan dan ruang teater pemutaran film dokumenter primata. Untuk dapat menyaksikan film dokumenter primata pengunjung dikenakan biaya Rp150.000 untuk sekali pemutaran.

Selesai shalat kami berjalan menuju Central area melalui tepi area pemancingan yang berbatasan dengan dinding pusat primata. Dinding pusat primata dan jalan setapak yang kami lalui dipisahkan oleh sebuah parit kecil. Dari parit tersebut muncul dua ekor reptil mirip komodo melintas di hadapan kami. Salah satu reptil memiliki panjang tubuh sepanjang lengan orang dewasa. Kami berdua seketika menghentikan langkah saling merapat berpegangan, baru berani lewat setelah kedua reptil itu menceburkan diri ke kolam pemancingan.

Di central area terdapat taman refleksi yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk berolahraga, relaksasi atau sekedar berfoto dengan patung komodo dan gajah. Di central area ini terpampang peta besar yang dapat membantu kami menemukan lokasi Komodo Dragon.

Komodo Dragon
Komodo Dragon di TMR, dok. Nurul

Komodo dragon yang kami cari berada di area barat TMR tidak jauh dari kandang gajah sumatera-yang kali ini tidak segersang area selatan. Komodo dragon itu tampak seperti batang pohon, hanya diam tidak ada pergerakan apapun. Pengunjung lain hampir tidak menyadari keberadaan binatang melata tersebut. Perjumpaan dengan satwa asal NTT ini mengakhiri aktifitas kami di TMR.

Terlepas dari nasib satwa-satwa yang dipelihara, saya rasa pengelolaan TMR sudah cukup baik, lingkungannya cukup bersih, fasilitas umum seperti toilet dan musholla juga terjaga dengan baik. Kantin resmi menawarkan menu yang variatif dan pedagang makanan/minuman mudah ditemui di dalam kawasan TMR. Selain itu, sebagai laboratorium alam taman ini memiliki fungsi konservasi dan edukasi.

Referensi:
http://ragunanzoo.jakarta.go.id
http://www.transportumum.com/jakarta/halte-ragunan/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Pelican
https://sportourism.id/news/jakcard-satu-kartu-untuk-banyak-tempat-wisata-di-jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s