Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa telah dikenal sejak abad ke 12 sebagai pusat perdagangan internasional yang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Padjadjaran. Para pedagang dari berbagai daerah di Nusantara maupun mancanegara, seperti India, Arab, Persia dan Tiongkok ramai melakukan aktifitas perdagangan di Pelabuhan ini. Pelabuhan ini merupakan dermaga tertua di Indonesia sekaligus awal pusat perkembangan kota Jakarta.

Advertisements

Museum Bahari

Bangunan panjang bergaya kolonial ini digunakan untuk menyimpan barang dagang VOC berupa rempah-rempah, kopi, teh, timah dan bahan tekstil. Lepas dari pemerintah kolonial, bangunan ini sempat dijadikan gudang logistik tentara pada saat pendudukan Jepang, lalu difungsikan sebagai kantor telekomunikasi pasca Kemerdekaan Indonesia.

Menara Syahbandar

Daya tarik lain dari bangunan ini adalah pengalaman menaiki tangga kayu menuju jendela pandang yang berada di Lantai empat bangunan. Menaiki tangga menara ini buat saya cukup memacu adrenalin, karena bangunan tua berusia sekitar 180 tahun ini sudah terlihat miring kearah selatan, hingga membuatnya dikenal sebagai “menara miring”.

Jembatan Kota Intan

Nama ”Jembatan Kota Intan” merupakan nama yang diberikan pada jembatan ini, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Nama ini berasal dari nama kubu/bastion “Diamond” pada kastil Batavia yang dahulu berada dekat dengan jembatan ini. Pada awal pembangunannya, jembatan ini dikenal dengan nama ‘Engelse brug’ atau Jembatan Inggris karena adanya kubu pasukan Inggris di sebelah timur jembatan.

Toko Merah

Bangunan dengan tembok bata bercat merah hati ini merupakan bangunan kembar beratap tunggal yang dibangun pada 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff—Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada periode 1743-1750. Bangunan ini berlokasi di sisi Barat Sungai Krukut, tepatya di Jalan Kali Besar Barat 17, Keluarahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Sebutan “Toko Merah” berasal dari cat berwarna merah hati yang melapisi tembok depan serta sebagian besar interior bangunan sejak bangunan dimanfaatkan sebagai toko oleh pedagang Tionghoa bernama Oey Liauw Kong pada 1851.